Cara Pilih Rumah Sesuai Kebutuhan di Tahun 2021

 Cara Pilih Rumah Sesuai Kebutuhan di Tahun 2021

Ilustrasi. (Foto: WG)

JAKARTA, WartaGriya.Com – Seiring perkembangan industri disektor properti, tentu tidak mudah memilih rumah yang sesuai dengan kebutuhan sebagai hunian impian bagi generasi milenial. Dari tahun ke tahun pastinya memiliki perbedaan baik dari segi desain rumah hingga fasilitas yang akan dijangkaunya.

BACA JUGA: 12 Langkah Cara Bayar BPHTB Online

Oleh karena itu, dibutuhkan cara tersendiri saat memilih rumah di Tahun 2021. Lalu seperti apa sih tips properti yang bisa menjawab kebutuhan rumah bagi keluarga muda? Yuk simak ulasannya sebagai berikut ini;

Untuk memiliki hunian sesuai kebutuhan tak lepas dari perencanaan keuangan atau budget. Oleh karena itu sangat penting memperhitungkan kemampuan bayar. Cara ini dilakukan agar keputusan beli rumah tidak membebani kondisi finansial termasuk kebutuhan pokok, maupun kebutuhan lain yang sebelumnya sudah ada.

BACA JUGA: Dosis Kedua, Warga Datangi Gerai Vaksin Presisi Polres Kep Seribu

Pihak perbankan sebagai pemberi pinjaman biasanya mempunyai syarat angsuran KPR per bulan maksimal 30% dari total penghasilan bersih pribadi maupun gabungan antara suami dan istri. Nah, metode ini bisa dijakan acuan untuk memperhitungkan batas kemampuan bayar, dengan catatan atau pasangan tidak memiliki utang lainnya.

Kemudian, setelah perencanaan budget untuk beli rumah, selanjutnya perlu mengenali metode pembayaran. Langkah ini sangat penting, agar paham akan biaya serta komitmen apa saja yang diperlukan dalam beli rumah. Sebagai bukti keseriusan, terdapat 2 jenis biaya yang perlu dibayarkan, diantara seperti:

BACA JUGA: Investasi Tanah Makin Mudah? Begini Penjelasan Pemerintah!

Booking fee adalah pembayaran dalam bentuk sejumlah uang sebagai komitmen memesan unit properti tertentu. Untuk besaran biayanya, booking fee tidak memiliki patokan pasti, dan berbeda-beda di tiap jenis hunian maupun pengembang properti.

Selain itu terdapat budget untuk Tanda Jadi atau Down Payment (DP). Pembayaran ini hampir serupa tujuannya dengan booking fee, DP merupakan wujud dari bukti keseriusan pemesanan rumah yang diinginkan. Kemudian, DP juga digunakan untuk mengikat harga yang sebelumnya sudah disetujui antara penjual dan pembeli properti.

Untuk besaran biayanya bervariasi, pada umumnya mulai dari 10%, tergantung promo yang sedang berlangsung dari bank ataupun pengembang properti. Agar tidak terbebani DP, bisa memilih bank atau pengembang properti yang mempunyai program keringanan kredit pembelian rumah. Selain bukti keseriusan, terdapat skema cara bayar properti yang berlaku di Indonesia, diantaranya:

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) – merupakan produk pembiayaan untuk beli rumah dengan skema pembiayaan sampai dengan 90% dari harga rumah. Pada sistem ini, akan membayar rumah dengan cara mencicil tiap bulan kepada pihak bank.

Lama cicilan atau tenornya beragam, dan bisa disesuaikan dengan kemampuan bayar masing-masing. Untuk mengajukan KPR, terdapat ketentuan standar yang harus dipenuhi meliputi usia <50 tahun ketika mengajukan permohonan KPR, fotokopi KTP, akta nikah atau cerai, kartu keluarga, surat keterangan WNI (untuk WNI keturunan), serta dokumen terkait rumah yang dijadikan agunan (SHM, IMB, PBB).

Tunai Keras atau Cash Keras – merupakan sistem pembayaran yang dilakukan dalam waktu paling lambat satu bulan sejak adanya kesepakatan antara pembeli dan pengembang.

Sistem bayar ini memiliki banyak keuntungan, karena biasanya pengembang akan memberikan potongan harga rumah yang menggiurkan (biasanya sekitar 10 – 15%).

Keuntungan lain adalah tidak perlu memikirkan beban cicilan tiap bulan, maupun fluktuasi suku bunga pinjaman yang kerap melambung tinggi seperti di sistem bayar KPR.

Kemudian, tunai bertahap atau Cash Installment yaitu cicilan dalam kurun 6-24 bulan yang dibayarkan langsung kepada pihak pengembang.

Sistem bayar ini terbilang cukup efektif karena cicilan tak akan terpengaruh fluktuasi bunga bank. Namun, perlu diketahui juga bahwa pada sistem ini pembeli diwajibkan untuk menyerahkan DP yang jumlahnya cenderung lebih besar atau sekitar 30 – 50% dari harga rumah, tergantung kebijakan pengembang.

Nah, kalau sudah paham kedua hal mendasar tersebut maka dapat mulai menentukan lokasi rumah yang diinginkan. Penentuan lokasi ini bisa dipertimbangkan berdasarkan berbagai aspek, mulai dari pertimbangan atas lokasi yang tidak rawan banjir, memiliki akses yang mudah dan strategis, maupun pertimbangan atas kondisi air, bentuk tanah, hingga besarnya budget yang dimiliki.

Selanjutnya, bagaimana cara pilih pengembang properti atau developer terpercaya. Tahapan ini merupakan cara memilih rumah berdasarkan pengembangnya. Pastikan pihak pengembang atau developer dipilih merupakan pihak terpercaya.

Langkah ini bisa dipastikan dengan menggali informasi seputar track record project sebelumnya, apakah developer memiliki masalah atau terdapat kejanggalan pada proyek hunian yang sudah pernah dibangun? Bila tidak ada masalah, maka dapat memilih produk hunian dari developer tersebut.

Tapi, jangan lupa pastikan kembali produk hunian developer yang dipilih sudah memiliki legalitas yang jelas hingga kisaran harga sesuai budget yang dimiliki.

Pengembang properti umumnya memiliki beberapa produk hunian dengan tipe luas tanah dan bangunan beragam jenis. Misalnya, tipe rumah yang kini cukup populer adalah tipe 36, 45, 60, dan tipe 70.

Untuk menentukan tipe rumah yang diinginkan bisa mengecek produk rumah yang disediakan oleh developer, dan menentukannya berdasarkan budget yang dimiliki.

Dalam menentukan tipe rumah ini, pastikan tidak memaksakan keinginan untuk memiliki rumah impian ya. Sebagai opsi agar tetap on budget, bisa memilih hunian dengan konsep rumah tumbuh yang memungkinkan untuk dibangun atau di renovasi di kemudian hari.

Nah cara selanjutnya yaitu ketika ingin beli rumah dengan cara mencicil, maka pastikan pasangan tidak memiliki kredit yang macet pembayarannya. Apabila seseorang memiliki kredit macet akan lebih sulit mendapatkan approval pinjaman KPR dari bank. Hal ini terjadi karena pihak bank mempertimbangkan kemampuan dan kepatuhan dalam membayar cicilan.

Selain itu, pihak bank biasanya juga akan memperhitungkan jumlah utang maupun cicilan berjalan dengan pendapatan setiap bulannya, serta track record kredit macet jika pernah mengalami sebelumnya.

Putri Pratiwi K

http://wartagriya.com

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *