Hindari Sikap Intervensi Mertua! Begini Caranya

 Hindari Sikap Intervensi Mertua! Begini Caranya

Ilustrasi. (Foto: WG)

JAKARTA, WartaGriya.Com – Seenak-enaknya tinggal di rumah mertua, lebih enak tinggal dirumah sendiri. Itulah pepatah bagi generasi yang baru menikah. Apalagi tak hanya malu dengan gunjingan para tentangga, namun tinggal di rumah mertua juga tidak luput dari sikap intervensi atau campur tangan dalam berumah tangga.

BACA JUGA: Langgar Prokes di Pulau Untung Jawa, Begini Sanksinya!

Bahkan, tak sedikit pasangan yang baru menikah lebih memilih tinggal di rumah kontrakan sementara. Apakah Anda juga pernah mengalami peristiwa tersebut? Tinggal di rumah orangtua atau di rumah sewa, boleh jadi terasa nyaman-nyaman saja bagi Anda hingga kini. 

Tapi, ada baiknya mulai berpikir lebih jauh untuk tinggal di rumah sendiri. Rumah sewa atau kontrakan ada batas pakainya. Ketika kelak tiba-tiba terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pastinya akan sangat keberatan menanggung biaya bayar sewa bahkan bisa terancam diusir oleh pemiliknya.

BACA JUGA: ‘Nggak Jadi’ Beli Rumah, Uang Booking Tidak Hangus? Begini Caranya!

Di sisi lain, bernyaman-nyaman tinggal di rumah mertua setelah menikah juga sejatinya kurang bijak. Bagaimanapun, memutuskan berkeluarga berarti harus siap hidup mandiri. Abdi Fajrin Senior Marketing PT Adhouse Clarion Events menilai, ketika masih tinggal di rumah  mertua, seringkali terlena alias terlalu nyaman sehingga lupa akan kebutuhan atas rumah pribadi. 

Maklum, menumpang tinggal di rumah mertua kebanyakan gratis. Kalaupun ada pengeluaran terkait rumah seperti listrik atau air, sifatnya adalah pengeluaran operasional yang nominalnya relatif tidak besar. Apalagi, gaya hidup masih belum terpapas penghematan, tiba-tiba anak pertama lahir disambung anak berikutnya. 

BACA JUGA: Lokasi Wisata Disulap jadi Pusat Vaksinasi? Ini Alasannya!

Alih-alih menyisihkan penghasilan untuk pembelian rumah, koceknya mungkin sudah keburu kering dibelanjakan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tuntutan gaya hidup. Jika sudah begitu, bukan mustahil hingga usia senja kelak, tidak juga mampu memiliki rumah sendiri meski penghasilan dan gaya hidup terbilang besar.

Tentu tidak ingin cerita akhir seperti itu terjadi. Bagaimanapun, tinggal di rumah yang dibeli dengan keringat sendiri akan terasa lebih nyaman dan membanggakan. Bila demikian, saatnya untuk mulai memikirkan strategi mempunyai rumah sendiri. Ingat, harga rumah sulit turun. Malah biasanya terus naik seiring permintaan yang hampir selalu ada.

Menunda pembelian rumah artinya harus membayar lebih mahal kelak. Posisi tinggal di rumah dinas atau menumpang rumah orangtua sebenarnya memberi keuntungan dari sisi kocek. Terlebih tidak memiliki pos pengeluaran khusus untuk biaya tempat tinggal. Misalnya, biaya sewa rumah. 

“Dengan begitu, sisa gaji tentu lebih banyak dan bisa kita tabung untuk modal pembelian rumah,” kata Abdi. Kemudian, bagaimana kiat agar bisa beli rumah selagi kini menumpang rumah mertua? Begini strateginya;

1. LANGKAH AWAL

Menetapkan tujuan bersama menjadi langkah awal yang perlu Anda tempuh. Bicarakan dengan pasangan tentang rencana pembelian rumah sendiri. Pasangan suami istri harus kompak untuk mengumpulkan dana pembelian rumah. Dalam perencanaan keuangan, sebuah tujuan seperti pembelian rumah harus spesifik. 

Misalnya, kapan dana pembelian akan digunakan, lalu hendak membeli rumah atau apartemen, metode pembelian apakah tunai bertahap atau lewat fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan. Kemudian, kisaran harga rumah yang diincar berikut lokasi rumah, dan sebagainya. Tujuan keuangan yang spesifik akan membuat Anda lebih bersemangat dalam mewujudkannya.

2. KUMPULKAN BUDGET

Setelah mantap merencanakan pembelian rumah, saatnya menyusun strategi pengumpulan budget. Tapi, sebelum ke sana, perlu melihat kemampuan kantong. Seberapa besar kemampuan kocek dalam membeli rumah? Pastikan beban utang-utang konsumtif seperti kartu kredit sudah dibereskan. Tujuannya, agar ruang fiskal di kantong lebih lega tanpa beban utang konsumtif. 

Periksa juga pos-pos pengeluaran. Menghemat pengeluaran yang bisa dihemat agar dana disisihkan untuk pembelian rumah bisa lebih banyak. Memeriksa kesehatan kantong juga penting untuk menilai jenis properti yang mampu dibeli. Tidak perlu memaksakan diri membeli yang jauh di atas kemampuan kantong yang sebenarnya. Terlebih jika beli melalui skema KPR dengan masa cicilan hingga puluhan tahun.

3. PILIH SKEMA

Harga rumah tidak murah. Mengumpulkan dana sekian ratus juta bahkan mungkin lebih mustahil bisa dilakukan dengan cepat apabila posisi sebagai karyawan bergaji bulanan kelas menengah. Namun, dengan kemampuan finansial yang terbatas, memiliki rumah bukanlah hal mustahil. Dapat memanfaatkan KPR dari perbankan sebagai skema pembelian rumah.

Apabila memilih KPR, fokus pengumpulan dana pembelian bisa dipersempit sebesar dana uang muka atau down payment (DP). Besar DP umumnya sekitar 30 persen dari harga rumah. Pastikan juga isi kantong mampu untuk menanggung cicilan bulanan KPR kelak. Maksimal beban total tanggungan utang, termasuk utang kartu kredit, adalah 30 persen dari penghasilan. “KPR merupakan salah satu jenis utang produktif yang menguntungkan,” kata Abdi Fajrin.

Kendati demikian, jika kantong cukup tebal, bisa menimbang pembelian properti dengan cicilan bertahap ke pengembang. Banyak developer menawarkan pembelian rumah dengan skema cicilan 12 kali hingga 36 kali. Besar bunga dari developer biasanya lebih kecil daripada bunga KPR bank.

4. SEPAKAT PENYESUAIAN ISI KANTON

Setelah bersepakat dengan pasangan tentang tujuan besar tersebut dan menyesuaikan dengan kondisi kantong, saatnya kini menyisihkan pendapatan untuk kebutuhan pembelian rumah. Disarankan untuk menyisihkan sekitar 15 persen-20 persen dari total penghasilan bulanan untuk keperluan dana pembelian rumah. 

Selain itu, ada juga alternatif paling tidak sebesar 30 persen dari total penghasilan gabungan suami istri harus disisihkan setiap bulan untuk dana pembelian rumah. Begitu juga apabila ada pendapatan ekstra atau pendapatan tahunan, seperti uang bonus kerja atau tunjangan hari raya (THR).

Sisa pendapatan sebanyak 70 persen alokasikan sebanyak 20 persen untuk dana darurat dan tujuan keuangan lain, sedang 50 persen untuk biaya hidup sehari-hari. Langkah ini cenderung menyarankan untuk mengumpulkan dana uang muka (down payment) pembelian rumah saja. “Besarnya sekitar 30 persen dari harga rumah. Beli rumahnya mencicil lewat KPR saja,” tambah Abdi.

5. SKEMA MENABUNG

Apabila target pembelian rumah adalah dua tahun mendatang, kumpulkan dananya di tabungan saja karena risikonya minim. Skema ini bisa memindahkannya ke deposito yang berbunga lebih tinggi ketimbang tabungan biasa, saat dana telah mencapai nominal tertentu. Pilih tenor deposito sesuai target waktu penggunaan dana. Tapi, jika target pemakaian dana di atas lima tahun, lebih baik berinvestasi saja. “Dengan investasi, ada harapan dana berkembang dan tidak tergerus inflasi,” kata Abdi.

Umumnya, menabung dana pembelian rumah dalam jangka pendek menengah tigga tahun hingga lima tahun. Misalnya, ketika ingin membeli rumah empat tahun lagi, dan harga rumahnya saat ini Rp 800 juta. Jadi, harus disiapkan DP sekitar Rp 240 juta. Dengan asumsi inflasi harga properti 15 persen per tahun, maka besar DP tahun 2018 mencapai Rp 419,76 juta.

Kebutuhan dana sebesar itu bisa terkumpul dengan menyisihkan dana Rp 5,06 juta per bulan selama empat tahun, di instrumen investasi dengan return 25 persen per tahun. Nah, bagaimana jika ingin mengejar pembelian rumah sekarang karena menimbang risiko inflasi, namun dana DP belum cukup? Bolehkah berutang untuk menutupnya? Skema berutang untuk menutup kebutuhan DP boleh ditempuh hanya jika beban cicilannya mampu ditanggung berikut cicilan KPR kelak.

Ingat rumus penting: total beban utang tidak boleh lebih dari 30 persen dari penghasilan. Upayakan mencari pinjaman lunak tanpa bunga dari pemberi kerja atau kerabat. Alternatif lain, carilah unit rumah yang DP-nya bisa dicicil. “Biasanya, proyek rumah yang masih inden memberi fasilitas cicil DP,” kata Abdi. Tapi, ingat, membeli properti inden juga memiliki risiko wanprestasi jika reputasi developer kurang bagus. Pilih properti dari pengembang tepercaya agar lebih aman.

6. BIAYA LAIN

Beli rumah melahirkan rentetan biaya lain yang juga perlu disiapkan dananya, antara lain, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), biaya provisi, biaya administrasi, biaya notaris, biaya appraisal, kemudian asuransi kebakaran. “Juga ada biaya balik nama antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta,” kata Abdi. 

Yang tak kalah penting, pilih rumah yang cukup dekat dengan fasilitas publik, seperti KRL, pasar, dan rumah sakit. Juga, tidak perlu tergiur tawaran pembelian properti berhadiah langsung. Karena, tidak ada makan siang gratis.

Putri Pratiwi K

http://wartagriya.com

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *