Jangan Kredit Rumah, Sebelum Mengetahui Cara Perhitungannya!

 Jangan Kredit Rumah, Sebelum Mengetahui Cara Perhitungannya!

Ilustrasi.

PENTING sebelum punya niat beli rumah, sebaiknya pahami terlebih dulu tentang perhitungan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Apalagi, mempelajari perhitangan KPR tersebut menjadi langkah awal penting bagi siapa saja yang berencana memiliki rumah melalui pembiayaan.

Proses ini tidak hanya membantu menentukan kemampuan pembayaran cicilan, tapi juga dalam memilih produk KPR yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi finansial.

Dengan pengetahuan yang tepat terkait KPR, bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan menghindari kejutan keuangan di masa depan.

Seperti diketahui, KPR merupakan fasilitas pembiayaan yang ditawarkan oleh bank atau lembaga keuangan untuk membeli rumah.

KPR memungkinkan untuk mewujudkan punya rumah sendiri dengan cara mencicil atau pembayaran secara berkala sesuai kesepakatan antara konsumen properti dan lembaga pembiayaan.

Menghitung KPR melibatkan beberapa komponen kunci yang perlu di pahami.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing komponen ini:

1. Jumlah Pinjaman

Jumlah pinjaman adalah total dana yang di pinjam dari bank untuk membeli rumah.

Besarannya biasanya tergantung pada harga properti dan persentase pembiayaan yang ditawarkan oleh bank.

Misalnya, jika harga rumah Rp500 juta dan bank menawarkan pembiayaan 80%, maka bisa meminjam hingga Rp400 juta.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur rasio kredit terhadap nilai agunan untuk memastikan bahwa bank memberikan kredit secara bertanggung jawab.

2. Suku Bunga

Suku bunga KPR merupakan tarif tahunan yang dikenakan oleh bank atas pinjaman yang di ambil.

Suku bunga ini bisa bervariasi antar bank dan bisa berubah sesuai kondisi pasar dan kebijakan moneter.

Suku bunga KPR berkisar antara 6% hingga 12% per tahun, dan bisa bersifat tetap atau mengambang.

Pilihan suku bunga yang tepat akan bergantung pada kondisi finansial dan preferensi risiko.

3. Jangka Waktu Pinjaman

Jangka waktu pinjaman adalah durasi yang di pilih untuk melunasi KPR.

Jangka waktu ini umumnya berkisar dari 5 hingga 30 tahun.

Memilih jangka waktu yang lebih panjang dapat menurunkan cicilan bulanan tapi meningkatkan total pembayaran bunga.

Sebaliknya, jangka waktu yang lebih pendek akan meningkatkan cicilan bulanan namun mengurangi total bunga yang harus dibayar.

Penting untuk mempertimbangkan kemampuan pembayaran bulanan dalam memilih jangka waktu pinjaman.

Jenis-Jenis Bunga KPR

Dalam memilih KPR, penting untuk memahami jenis-jenis bunga yang ditawarkan oleh bank.

Jenis bunga ini akan mempengaruhi bagaimana cicilan tersebut dihitung dan bagaimana pembayarannya dapat berubah seiring waktu.

Berikut adalah dua jenis bunga KPR utama yang tersedia:

1. Bunga KPR dengan Suku Bunga Tetap (Fixed Rate)

Suku bunga tetap adalah suku bunga yang sama selama periode waktu tertentu, biasanya 1 hingga 5 tahun pertama dari masa pinjaman.

Keuntungan utama dari suku bunga tetap adalah kepastian pembayaran.

Oleh karena itu, akan mengetahui jumlah eksak yang harus dibayarkan setiap bulannya selama periode suku bunga tetap berlaku.

Setelah periode suku bunga tetap berakhir, suku bunga akan disesuaikan menjadi suku bunga mengambang atau fixed rate baru yang mungkin lebih tinggi.

Cara Perhitungan:

Suku Bunga Tetap selama periode pinjaman tidak berubah. Pembayaran bulanan dihitung dengan menggunakan rumus angsuran pinjaman standar.

Yaitu dengan suku bunga tetap tersebut dan tetap sama hingga akhir periode pinjaman.

Simulasi:

Misalkan pinjaman sebesar Rp500 Juta dengan suku bunga tetap 10% per tahun untuk jangka waktu total pinjaman 10 tahun.

Pembayaran Bulanan = [Rp500 Juta × 10% / 12] / [1 – (1 + 10% / 12)^(-120)]

Pembayaran Bulanan = Rp6.602.587 (angka dibulatkan)

Pembayaran bulanan ini tetap sama untuk seluruh durasi pinjaman 10 tahun.

2. Suku Bunga Mengambang (Floating Rate)

Suku bunga mengambang adalah suku bunga yang berubah-ubah sesuai dengan kondisi pasar dan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Keuntungannya adalah bunga mengambang seringkali lebih rendah daripada suku bunga tetap pada awal masa pinjaman.

Ini bisa menguntungkan jika suku bunga pasar umumnya turun atau stabil.

Risiko dari suku bunga mengambang adalah ketidakpastian pembayaran.

Jumlah cicilan bulanan bisa naik jika suku bunga pasar meningkat.

Cara Perhitungan:

Suku Bunga Mengambang berubah sesuai kondisi pasar dan kebijakan moneter.

Pembayaran bulanan pada awalnya dihitung dengan suku bunga awal, lalu disesuaikan secara berkala sesuai perubahan suku bunga.

Simulasi:

Misalkan pinjaman sebesar Rp500 Juta dengan suku bunga awal 8% yang berubah menjadi 11% setelah 2 tahun, untuk jangka waktu total pinjaman 10 tahun.

Pembayaran Bulanan untuk 2 tahun pertama (dengan suku bunga 8%) = [Rp500 Juta × 8% / 12] / [1 – (1 + 8% / 12)^(-24)]

Pembayaran Bulanan untuk 2 tahun pertama = Rp20.924.000 (angka dibulatkan)

Pembayaran Bulanan setelah 2 tahun (dengan suku bunga 11%) akan dihitung ulang berdasarkan saldo pinjaman tersisa dan suku bunga baru.

Memahami perbedaan antara suku bunga tetap dan suku bunga mengambang akan membantu dalam memilih jenis KPR yang paling sesuai dengan situasi keuangan dan preferensi risiko.

Penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini sebelum membuat keputusan KPR, agar bisa memilih opsi yang memberikan kenyamanan dan keamanan finansial jangka panjang.

Digiqole ad

Putri Pratiwi K

http://wartagriya.com

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *