Jangan Panik, Ketika Tak Sanggup Bayar Cicilan KPR

 Jangan Panik, Ketika Tak Sanggup Bayar Cicilan KPR

Ilustrasi diperagakan model Jihan Najib. (Foto: Ist)

JANGAN panik, ketika tak sanggup lagi bayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Apalagi, kondisi keungan tidak ada yang tahu jika dikemudian hari mengalami nasib kurang beruntung.

Meskipun, ketika memutuskan untuk beli rumah melalui skema KPR telah memiliki penghasilan tetap bahkan lebih dari cukup dalam ekonomi tak menjamin berjalan mulus.

Lalu bagaimana cara mengatasi ketika sudah tidak sanggup bayar cicilan KPR tersebut? Yuk simak penjelasan sebagai berikut;

1. Cairkan Aset

Ketika masyarakat yang kesulitan membayar cicilan KPR sebaiknya mengecek lagi seluruh aset-asetnya.

Jika masih punya dana darurat atau aset lain, maka bisa dicairkan terlebih dahulu untuk membayar tanggungan tersebut.

2. Lapor Bank

Namun, jika semua dana darurat dan aset sudah habis, sebaiknya langsung menghubungi pihak bank.

Hal ini untuk menghindari pembengkakan denda keterlambatan pembayaran cicilan.

Sampaikan bukti pendukung ada masalah pada sumber pemasukan dan minta kebijakan dari pihak bank.

Disaran, nasabah untuk mengajukan permohonan keringanan kepada pihak bank. Bentuk keringanan ini bervariasi.

Mulai dari keringanan denda keterlambatan pembayaran cicilan hingga perpanjangan tenor, rekondisi, misalnya keringanan bunga.

Selain itu, pihak bank juga bisa menawarkan over credit.

Artinya, rumah nasabah dijual, kemudian pihak yang membeli akan melanjutkan cicilan nasabah sebelumnya.

Jika ada yang berminat, tetap ada biaya yang akan dipotong dari pengembalian total cicilan yang sudah dibayar.

Selain itu, pihak bank bisa saja menyita rumah nasabah yang tak membayar cicilan KPR.

Maka itu, masyarakat sebaiknya langsung melapor ke bank jika tak bisa membayar sebelum masa jatuh tempo.

Jika nasabah tidak membayar cicilan KPR hingga batas waktu tertentu dan setelah diberikan teguran, maka bank berhak menjalankan prosedur penyitaan yang berujung rumah akan dilelang.

Sementara, pihak perbankan biasanya akan melihat masalah dari nasabah terlebih dahulu sebelum menawarkan beberapa opsi untuk menyelesaikan masalah.

Perbankan lihat dulu, lihat orangnya juga mau mempertahankan atau tidak.

Percuma kalau nasabahnya nakal, diberikan kesempatan sama bank, ya bank ujung-ujungnya akan eksekusi (sita).

3. Restrukturisasi KPR

Jika ada niat dari nasabah untuk mempertahankan rumah itu atau melunasi KPR, maka bank akan membantu.

Sebaiknya, nasabah langsung melaporkan ke bank jika arus kas sudah mulai terganggu.

Sebelum tanggal jatuh tempo bilang ke bank, sehingga bank ada persiapan juga.

Nasabah bisa mengajukan restrukturisasi cicilan KPR kepada bank.

Bentuknya bermacam-macam, bisa tenor diperpanjang sehingga cicilan lebih murah.

Selain itu nasabah juga bisa negosiasi besaran bunga, dan libur sementara bayar cicilan KPR.

Ini tergantung kondisi nasabah. Tenor diperpanjang tak masalah, nilai aset KPR selalu naik.

Jadi nilai aset akan lebih tinggi dibandingkan dengan total yang nasabah bayar. Tetap akan balik modal nasabahnya.

Penyebab lain, bisa dilihat terlebih dahulu kondisi keuangan dan nasabah tak bisa membayar cicilan KPR.

Jika karena gaji turun, pindah kerja, atau masalah temporer lainnya, maka perusahaan akan menawarkan restrukturisasi.

Kalau ada masalah arus kas, harus dibuktikan. Ya sudah nanti bisa direstrukturisasi.

Misalnya tenor 10 tahun, sudah jalan dua tahun, ditambah apakah diperpanjang jadi 15 tahun agar cicilan berkurang.

Bahkan, beberapa nasabah bisa diberikan libur bayar cicilan.

Misalnya, libur bayar bunga atau pokoknya selama tiga bulan karena nasabah kehilangan pekerjaan.

Mungkin misalnya bayar bunga dulu, nanti diperpanjang jatuh temponya agar angsuran lebih murah.

Tak hanya itu, nasabah bisa minta keringanan bunga floating. Misalnya, turun menjadi 9,9 persen atau 9,8 persen, sehingga cicilan per bulan turun.

Langkah itu bisa diterapkan, tapi biasanya pihak bank akan lihat lagi latar belakang nasabah tersebut.

Opsi lainnya, nasabah bisa mengajukan cicilan flat dalam jangka waktu beberapa tahun.

Sebagai contoh, Rp5 juta per bulan tahun ini, tahun depan Rp7 juta per bulan, dan 2024 sebesar Rp8 juta per bulan.

Tapi tenor ditambah misalnya tiga tahun. Jadi diperpanjang tenornya, sudah jalan sekian tahun, diperpanjang, itu bisa.

Namun, sekali lagi, itu semua bisa terjadi jika nasabah membuktikan bahwa ada masalah arus kas.

Nasabah bisa menunjukkan surat keterangan kerja atau rekening bank untuk membuktikan kondisi keuangan mereka.

4. Lelang Rumah

Sementara, lelang adalah opsi terakhir yang biasanya ditawarkan perbankan.

Kalau menggunakan skema lelang, nasabah bisa meminta bantuan perbankan untuk menawarkan ke pasar.

Namanya lelang sukarela, nasabah bisa jual, misalnya harga rumah Rp500 juta, bisa laku Rp600 juta.

Sisa utang nasabah Rp300 juta. Nasabah hanya cukup bayar Rp300 juta, sisanya Rp300 juta lagi hak nasabah.

Perbankan akan menyita rumah jika nasabah sudah beberapa kali tak bayar dan tak melapor ke bank.

Namun, walaupun disita, pihak bank akan melelang rumah itu.

Kalau hasil penjualannya lebih besar dari sisa utang nasabah, maka sisanya akan dikembalikan ke nasabah.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *