Kenali Ciri-Ciri KPR Akan Ditolak Bank

 Kenali Ciri-Ciri KPR Akan Ditolak Bank

Ilustrasi. (Foto: WG)

JAKARTA, WartaGriya.Com – Beragam kendala atau keinginan tak bisa berjalan mulus ketika dalam proses beli rumah melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Meskipun demikian, sebenarnya ada tanda-tanda bahwa pengajuan KPR tersebut bakal ditolak olah bank.

Kemudian ada sejumlah faktor sehingga akan muncul indikator KPR ditolak.

Faktor itu bisa berasal dari rumah yang akan dibeli, status pihak pengembang, hingga kondisi keuangan si pemohon KPR.

Nah seperti apa sih, tanda-tanda pengajuan KPR tersebut bakal ditolak oleh bank? Yuk simak ulasannya sebagai berikut;

1. Tidak Ada Konfirmasi

Ada beberapa bank yang menerapkan standar operasional prosedur (SOP) misalnya tenggang waktu sebelum memutuskan persetujuan pengajuan KPR.

Pada SOP yang diterapkan bank, dibutuhkan waktu antara 14 sampai 30 hari kerja untuk pengambilan keputusan diterima atau ditolak.

Namun yang paling terlihat tanda-tanda pengajuan KPR bakal ditolak yaitu tidak ada konfirmasi dari bank hingga pada kurun waktu sudah lebih dari 30 hari.

2. Status Pekerjaan

Selanjutnya status pekerjaan juga menjadi pertimbangan penting ketika bank akan memutuskan ditolak atau di setujui pengajuan KPR.

Aturan ini memang sudah menjadi ketentuan umum disetiap bank sebagai pemberi pinjaman.

Umumnya, pemohon KPR harus berstatus sebagai pekerja tetap minimal 1 tahun.

Aturan ini diterapkan oleh bank karena akan digunakan dalam menganalisa keberlanjutan cicilan.

Dengan status dan masa kerja tersebut lebih jelas, potensi KPR akan disetujui semakin besar. Alasannya, karena dianggap stabil.

Tapi sebaliknya apbila status misalnya masih kontrak atau karyawan outsourcing menjadi tanda-tanda bakal ditolak pengajuan KPRnya.

3. Punya Riwayat Kredit Buruk

Punya riwayat kredit buruk juga menjadi pengajuan KPR bakal ditolak oleh pihak bank.

Apalagi, riwayat kredit dari berbagai transaksi bisa diakses oleh bank melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK.

Sistem ini awalnya lebih dikenal dengan nama BI Checking, tapi sejak 1 Januari 2018 pengelolaan riwayat kredit Debitur yang semula dilakukan oleh Bank Indonesia.

Namun sekarang ini dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu, riwayat kredit Sobat WG diukur berdasarkan riwayat aktivitas kredit berdasarkan dari skala 1-5 atau yang biasa disebut dengan Kolektibilitas (Kol).

Apabila riwayat kredit Sobat WG berada di Kol.1, maka kemungkinan besar pengajuan KPR akan disetujui.
Kemudian, pada Kol.2, pengajuan Sobat WG bisa disetujui ataupun ditolak. Nah, apabila status sudah Kol.3 ke atas, maka sudah pasti pengajuannya bakal ditolak.

4. Kemampuan Bayar

Dalam proses pengajuan KPR, kemampuan bayar juga menjadi pertimbangan oleh bank.

Idealnya, 30 persen dari penghasilan per bulan sebagai standar rujukan kemampuan bayar cicilan per bulan.

Ada sejumlah bank yang menetapkan hingga 40 persen. Pihak bank melihat Sobat WG sanggup membayar apabila mempunyai penghasilan tetap, yang akan dianalisa sebelum memberikan kredit.

Selain itu, bank juga akan melihat jumlah tabungan sebagai cadangan pembayaran atas penghasilan tetap.
Misalnya, kondisi keuangan yang kurang bagus bisa menyebabkan KPR bakal ditolak oleh bank.

Disarankan Sobat WG bisa melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan bayar cicilan bulanan agar terhindar dari risiko gagal membayar di kemudian hari.

5. Kemampuan Klarifikasi Dalam Wawancara Bank

Kemampuan klarifikasi saat menjelaskan keuangan dalam wawancara bank juga menjadi penentu pengajuan KPR ditolak atau disetujui.

Performa diri ditampilkan calon nasabah ketika bertemu pihak bank turut diikutsertakan dalam penilaian.

Terlebih, pihak bank juga menilai gaya berbicara yang kurang meyakinkan.

Performa seperti itulah, kemungkinan untuk lolos sangat kecil.

Kemudian, hindari berbicara terlalu panjang tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

Jelaskan dengan gamblang tentang keuangan, kesanggupan, dan kondisi Sobat WG sekerang ini kepada pihak bank.

Selain itu, jangan merasa takut ditolak kemudian berani untuk membohongi bank terlebih ada konsekuensi yang berlaku.

6. Daftar Hitam BI

Daftar hitam menjadi cacatan buruk bagi calon pemohon KPR. Biasanya terjadi kalau Sobat WG pernah lalai membayar cicilan kredit.

Sehingga berdampak gagal bayar atau kredit macet, maka akan terlihat di IDI Historis pada SLIK OJK.

Kondisi tersebut menjadi catatan buruk dan masuk daftar black list Bank Indonesia (BI) yang kini berganti SLIK OJK.

Riwayat jelek ini bakal mengakibatkan dan mengindikasikan ciri-ciri KPR ditolak.

Memang disarankan sebelum mengajukan pinjaman termasuk KPR, lunasi terlebih dulu kewajiban utang tersebut.

Meskipun demikian jika tidak juga dilunasi, pengajuan kredit apapun tidak akan diterima oleh bank.

Karena apabila sudah terlanjur masuk black list dan ingin keluar dari daftar tersebut, ada cara pemutihan BI checking terbaru 2021 melalui SLIK yang bisa diikuti.

Putri Pratiwi K

http://wartagriya.com

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *