Tahun 2020, Rumah Tapak Masih Diburu Calon Konsumen

 Tahun 2020, Rumah Tapak Masih Diburu Calon Konsumen

Ilustrasi. (Foto: WG)

JAKARTA, WartaGriya.Com — Produk properti rumah tapak diprediksi masih diburu calon konsumen diawal Tahun 2020 ini. Founder WartaGriya.Com Rahmat Anwar membenarkan,  berdasarkan hasil riset disejumlah wilayah Jabodetabek rumah tapak tercatat paling banyak diminati dengan porsi 50% diantara jenis properti lainnya. 

Selain rumah tapak, hunian vertikal juga diproyeksikan tetap menjadi incaran calon konsumen yang ingin tinggal di tengah perkotaan. Dua pilihan itu tetap menjadi pilihan menarik apalagi jika memiliki nilai yang bisa mendorong pasar properti. 

“Pasar perumahan tapak cukup stabil. Kita pantau di Jabodetabek ada sekjtar 40 proyek pengembangan kawasan perumahan, hasilnya rumah tapak tetap menjadi incaran konsumen” jelas Rahmat Anwar, di Bogor, Jum’at (7/2/2020). 

Sebelumnya prapenjualan emiten properti cukup cemerlang yang didorong bonanza sektor komoditas. Pada saat itu, prapenjualan properti berasal dari investor dan saat ini investor yang saat itu membeli unit-unit properti belum membutuhkan tambahan unit.

Oleh karena itu, pasar berikutnya bergeser ke segmen ritel yang memiliki daya beli lebih terbatas. Alhasil, laju penyerapan produk properti menjadi lebih lamban bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Anwar menilai, ke depannya sektor properti masih harus berjuang mengamankan pundi-pundi keuangan. Tujuannya agar bisa terus melakukan ekspansi. Pergeseran pasar tersebut sebagai titik keseimbangan baru yang harus dihadapi sektor properti.

Prospek industri masih ada dengan potensi backlog (kekurangan pasokan) mencapai 10 juta hunian dan tren pengembangan wilayah terintegrasi melalui moda transportasi umum. “Outlook 10 juta housing backlog yang harus disasar. Ini ekuilibrium yang baru,” katanya.

Apabila dibandingkan dengan pasar perumahan, proyek apartemen juga diperkirakan masih lesu sampai dua hingga tiga tahun ke depan. Karena itu, penawaran apartemen baru sangat terbatas dalam sekian tahun terakhir di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek).

Semua developer termasuk developer besar, sendiri, atau bermitra dengan developer asing, memilih melansir proyek perumahan berupa klaster atau proyek baru. Sementara itu, developer yang sebelumnya lebih banyak mengembangkan apartemen, mengalihkan fokus ke proyek perumahan. Pengalihan fokus ini dikarenakan pasar rumah menengah atas dan mewah masih lesu.

Sebagian besar developer menyasar rumah menengah bawah seharga di bawah Rp500 juta sampai dengan Rp1 miliar per unit termasuk rumah bersubsidi. Dengan begitu, pengembang tetap bisa berjualan saat kondisi pasar lesu dan mendapatkan likuiditas.

Developer fleksibel mengelola ekspektasi pasar sehingga tetap bisa berjualan dalam situasi pasar seperti sekarang. Fleksibel bukan hanya dalam pilihan segmen pasar, tetapi juga besaran margin yang diperoleh.


Putri Pratiwi K

http://wartagriya.com

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *