LSM LIRA Desak APH Periksa Dirut Pelindo dan JICT Terkait Pembunuhan Aktivis Anti Korupsi Ermanto Usman
JAKARTA, WartaGriya.Com – LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera memeriksa Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal (JICT) Ade Hartono dan Direktur Utama PT Pelindo Achmad Muchtasyar terkait dugaan keterlibatan dalam kasus pembunuhan aktivis anti korupsi Ermanto Usman.
Aktivis yang dikenal sebagai penggiat anti korupsi tersebut ditemukan tewas di rumahnya di wilayah Bekasi pada awal Maret 2026. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah Polres Metro Bekasi menangkap sejumlah pelaku yang diduga sebagai eksekutor pembunuhan.
Dari informasi yang beredar, para pelaku disebut menerima perintah dari pihak tertentu untuk menghabisi Ermanto Usman yang diduga tengah mengungkap kasus dugaan korupsi di lingkungan JICT–Pelindo senilai sekitar Rp4,8 triliun.
Presiden LSM LIRA, KRH HM Jusuf Rizal, SH menegaskan bahwa aparat penegak hukum perlu menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam kasus tersebut.
“Jika melihat fakta bahwa pembunuhan ini berkaitan dengan dugaan korupsi di JICT–Pelindo, maka tidak tertutup kemungkinan adanya keterlibatan petinggi perusahaan. Karena itu kedua Direktur Utama harus diperiksa untuk memperjelas kasus ini,” tegas Jusuf Rizal kepada media di Jakarta.
Menurutnya, Ermanto Usman selama ini dikenal aktif mengungkap dugaan korupsi di lingkungan JICT–Pelindo sejak ia masih menjadi bagian dari serikat pekerja di perusahaan tersebut. Ia bahkan disebut telah mengumpulkan berbagai data terkait dugaan penyimpangan yang merugikan negara hingga Rp4,8 triliun.
Kasus dugaan korupsi tersebut pernah menjadi perhatian DPR RI melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Komisi III pada tahun 2015. Namun proses penanganannya disebut terhenti setelah terjadi pergantian pemerintahan dan menteri terkait.
Dalam sejumlah wawancara sebelumnya, Ermanto Usman juga sempat menyebut bahwa dugaan korupsi tersebut melibatkan banyak pihak. Ia bahkan menyebut sejumlah nama tokoh nasional yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut.
Namun sebelum sempat menyerahkan data yang dimilikinya kepada sejumlah pejabat negara seperti Menteri Keuangan, Kejaksaan Agung, DPR, hingga Presiden, Ermanto Usman terlebih dahulu ditemukan tewas di rumahnya.
“Saya menduga ada pihak yang berusaha membungkam Ermanto Usman agar kasus korupsi tersebut tidak terbuka ke publik. Pembunuhan ini bisa saja dikemas seolah-olah perampokan,” ujar Jusuf Rizal.
LSM LIRA menilai pengungkapan aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut menjadi sangat penting demi menjaga keberanian para penggiat anti korupsi di Indonesia.
Jusuf Rizal juga mengajak masyarakat dan aktivis anti korupsi untuk tidak takut mengungkap berbagai dugaan penyimpangan yang merugikan negara.
Ia membuka saluran pengaduan bagi masyarakat yang memiliki data terkait dugaan korupsi untuk disampaikan melalui email bantuanhukum.lira@gmail.com atau hotline WhatsApp 0888-9080-471.
Selain itu, LSM LIRA juga berencana menggalang dukungan dari berbagai serikat pekerja dan serikat buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di pelabuhan untuk mendesak aparat penegak hukum segera mengungkap aktor intelektual di balik pembunuhan Ermanto Usman.
English 







































































