#Events

Pekan Halal Indonesia dan EduNation Festival 2026 Hadirkan Ekosistem Halal dan Edukasi dalam Satu Gelaran

JAKARTA, WartaGriya.Com — Industri halal tak lagi berhenti di meja makan. Ia merambah pendidikan, fesyen, tekstil, teknologi pembayaran, komunitas, hingga gaya hidup.

Gagasan itu akan dibawa dalam Pekan Halal Indonesia (PHI) in Conjunction with EduNation Festival 2026, yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Menjelang penyelenggaraan, panitia menggelar konferensi pers kedua pada Rabu, 26 Agustus 2026, di Dream Dates Artisan Bakery & Restaurant, Senopati, Jakarta.

Sejumlah mitra acara hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Glamlocal, Halal Kulture, Deatextile, iFortePay sebagai Official Payment, serta Bank Syariah Indonesia sebagai Supported Partner.

Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, selaku penyelenggara, Vibiadhi Swasti Pradana mengatakan PHI dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai sektor dalam satu ekosistem halal.

“Melalui PHI, kami ingin membangun sebuah ekosistem yang terintegrasi dan dapat menjadi one-stop solution. Industri halal tidak hanya berbicara mengenai perdagangan, tetapi juga pendidikan, gaya hidup, keterampilan, teknologi, dan berbagai sektor lainnya,” ujar Vibiadhi.

Menurut dia, pendekatan tersebut penting karena perkembangan industri halal kini bersinggungan dengan semakin banyak aspek kehidupan masyarakat.

Pendidikan dan Halal Living

Persinggungan antara industri halal dan pendidikan menjadi salah satu tema yang mendapat perhatian dalam gelaran tersebut.

Ketua KOPIN, Ustadz Ali Saman Hasan, mengatakan pendidikan tidak cukup hanya membekali generasi muda dengan pengetahuan dan kemampuan bersaing. Pendidikan, kata dia, juga perlu membentuk karakter dan kesadaran terhadap nilai halal.

“Ketika seseorang memiliki daya saing global, dia juga harus memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai halal. Pendidikan tidak hanya menggabungkan knowledge, tetapi juga akhlak,” kata Ali.

Ia menilai kesadaran mengenai halal sebaiknya diperkenalkan sejak berada di lingkungan pendidikan. Konsep halal tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi dapat menyentuh berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari seragam hingga buku.

Dengan pendekatan tersebut, edukasi halal diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Teknologi Pembayaran untuk Pelaku Usaha

Sektor teknologi pembayaran juga menjadi bagian dari ekosistem yang dibawa dalam PHI 2026.

Chief Executive Officer iForte, Valerino Wijaya, menjelaskan digitalisasi dapat membantu pelaku usaha mempercepat dan memastikan proses transaksi. Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah QRIS Soundbox.

Perangkat tersebut memberikan notifikasi suara ketika pembayaran melalui QRIS berhasil dilakukan. Bagi pedagang, fitur itu dapat membantu memastikan transaksi telah diterima tanpa harus terus-menerus memeriksa layar.

“Pada saat terjadi pembayaran, akan muncul suara notifikasi. Dari sisi penjual, ini membantu mengetahui bahwa transaksi sudah dilakukan. Di sisi lain, pembayar juga dapat menerima konfirmasi dan merasa yakin bahwa pembayarannya sudah berhasil,” ujar Valerino.

Teknologi tersebut dinilai relevan dengan karakteristik sektor usaha mikro yang memiliki jumlah pelaku sangat besar. Dalam konferensi pers disebutkan jumlah unit usaha mikro di Indonesia mencapai lebih dari 30,2 juta unit.

Digitalisasi pembayaran, dalam konteks itu, bukan semata soal teknologi. Ia juga berkaitan dengan kecepatan transaksi dan pengalaman konsumen.

Komunitas Masuk ke Industri Halal

Industri halal juga dilihat dari perspektif komunitas dan gaya hidup.

Direktur Mumtaz Creative sekaligus Halal Kulture, Agung Mulyawan Paramata, mengatakan pasar halal memiliki potensi luas karena nilai yang dibawanya semakin dikenal di pasar global.

“Secara industri, segmen Muslim dan industri halal ini merupakan salah satu segmen yang sangat besar. Semakin ke sini, hal-hal yang berkaitan dengan halal ternyata tidak hanya relevan untuk Muslim,” kata Agung.

Halal Kulture akan membawa pendekatan berbasis komunitas dalam penyelenggaraan PHI. Sejumlah komunitas, termasuk komunitas otomotif dan muslim bikers, akan dilibatkan.

Program Sunday Morning Hype juga dijadwalkan hadir. Selain itu, terdapat ruang diskusi yang membahas sejumlah isu, antara lain cryptocurrency, ekonomi syariah, bisnis, dan keuangan syariah.

Dengan format tersebut, penyelenggara mencoba membawa isu halal keluar dari batas pameran produk dan memasukkannya ke ruang percakapan gaya hidup serta ekonomi.

Tekstil Halal dari Hulu hingga Hilir

Sektor tekstil menjadi bagian lain dari ekosistem yang ditampilkan.

CEO Deatextile, Adwil Yusuf, mengatakan produk halal tidak hanya terbatas pada kategori pangan. Tekstil juga memiliki ruang dalam industri halal, terutama ketika proses produksi dan bahan yang digunakan menjadi perhatian.

“Produk halal tentunya bukan sesuatu yang sederhana. Produk tersebut harus memiliki sertifikasi halal. Dalam event ini, kami akan membawa produk halal yang berbeda, yaitu produk tekstil,” ujar Adwil.

Deatextile mengembangkan produk tekstil dari proses hulu hingga menjadi produk akhir. Perusahaan tersebut juga menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan.

Salah satunya dengan Universitas Indonesia untuk kebutuhan seragam. Kerja sama serupa juga dikembangkan dengan perguruan tinggi lain untuk pembuatan jas, almamater, toga, dan berbagai kebutuhan tekstil pendidikan.

Mempertemukan Bisnis, Pendidikan dan Komunitas

Pekan Halal Indonesia dan EduNation Festival 2026 pada akhirnya diposisikan bukan sekadar sebagai pameran. Gelaran ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, institusi pendidikan, komunitas, teknologi, dan masyarakat.

Di tengah pertumbuhan industri halal yang semakin beragam, pendekatan ekosistem menjadi penting. Produk, pendidikan, transaksi digital, komunitas, serta gaya hidup ditempatkan dalam satu ruang yang saling berhubungan.

Pekan Halal Indonesia in Conjunction with EduNation Festival 2026 akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Tiket acara dibanderol Rp20.000.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *